Rabu, 26 Desember 2012

Evaluasi Penerapan Fungsi Territoriality di dalam Karya Rancangan Arsitektur.


Untuk teman-teman mahasiswa Pasca Sarjana Arsitektur ITS peserta MK Arsitektur Perilaku 1, semester 1, Bidang Studi Teori, Sejarah & Kritik Arsitektur,  tahun 2012/2013,

Anda semua diharuskan membuat tulisan berupa bahasan teori yang terkait konsep Konsep Territoriality dalam Arsitektur Perilaku, beserta evaluasi penerapannya dalam kasus karya rancangan Arsitektur/ Perancangan Kota/ Interior, khusus terkait dengan  fungsi fisik-fisiologis, psikologis dan sosial dari konsepTerritoriality tersebut. Tulisan mengenai teorinya bisa di-posting dalam blog saya ini, sedangkan keseluruhan makalah berikut gambar-gambar studi kasusnya dikumpulkan dalam format soft-copy (dalam CD) dikumpulkan pada tanggal 11 Januari 2012 ke TU S2 Arsitektur ITS.

Saya tunggu posting anda.

Sri Amiranti,
Dosen MK Arsitektur Perilaku 1
Bidang Studi Teori, Sejarah & Kritik Arsitektur
S2 Arsitektur ITS

29 komentar:

  1. Tugas Mata Kuliah Arsitektur Perilaku 1
    Nama: Sherly de Yong
    NRP: 3211202003
    Topik bahasan: Penerapan Fungsi Konsep Territoriality
    Studi Kasus: Studi Kasus Pada Interior Kantor Superwoman Financial Institution, Sydney

    Part 1

    Kajian Teori Konsep Territoriality
    Menurut Leon Pastalan dalam Lang (1987), konsep territoriality terkait dengan teritori manusia didefinisikan sebagai ruang yang terbatasi dimana seseorang atau sekumpulan orang menggunakan dan menjaganya sebagai sebuah ruang eksklusif dan melibatkan pengidentitasan psikologi akan sebuah tempat, simbolisasi dengan perilaku yang posesif dan penataan obyek pada area. Porteus dalam Amiranti (2012) mendefinisikan konsep territoriality sebagai perilaku spasial yang melibatkan kontrol khusus terhadap ruang oleh individu atau kelompok manusia yang bersifat intraspesifik melibatkan agresi dan memberikan hak-hak kepada individu atau kelompok tersebut terhadap ruang yang bersangkutan. Irwin Altman dalam Lang (1987) mendefinisikan perilaku territorial sebagai mekanisme perilaku pembatasan dan pengaturan diri sendiri/lain yang melibatkan personalisasi atau penandaan sebuah tempat atau obyek dan mengkomunikasikannya bahwa tempat tersebut sudah dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang. Jadi kesimpulannya secara umum konsep territoriality selalu terkait dengan kegiatan dan perilaku spasial seseorang di dalam mempertahankan teritorinya, dan territorial mencakup sifat dan kualitas di dalam mempertahankan teritori.
    David Delaney di dalam buku “Territory: Short Introduction” mendefinisikan bahwa teritori adalah memberikan rasa aman untuk yang berada di dalam dari bahaya yang sedang terjadi di luar sana. Sedangkan Amos Rapoport (1969) mendefinisikan teritori sebagai sebuah area tertentu dimana dimiliki atau dipertahankan (entah itu secara fisik, atau melalui aturan dan symbol-simbol) dimana bisa diidentifikasi sebagai area milik seseorang atau grup, dan salah satu cara agar orang dapat mengkomunikasikan kepemilikan teritori ini adalah melalui personalisasi. Teritori melibatkan ruang personal, status, dominan dan beberapa aksi dan reaksi kultur dan biologis. Dan teritori sendiri bisa disimpulkan sebagai tempat dengan pembatasan dengan karakteristik dari teritori adalah (1) penandaan akan kebenaran suatu tempat; (2) personalisasi atau penandaan area; (3) kebenaran untuk mempertahankan tempat tersebut dari intrusi; dan (4) beberapa fungsi yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan dasar fisiologis dari kebutuhan kognitif dan estetika (Lang, 1987).

    BalasHapus
  2. Part 2
    Konsep perilaku spasial manusia territoriality ini selalu dikaitkan langsung dengan territory atau tempat terjadinya perilaku territoriality, maka yang terpenting di dalam arsitektur perilaku adalah territory itu sendiri. Setelah mengetahui definisi territory, maka hal yang kedua adalah fungsi dari teritori itu sendiri. Fungsi dari teritori adalah memungkinan adanya pemenuhan beberapa kebutuhan dasar manusia.
    Menurut Jon Lang (1987) manusia memiliki empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan akan identity (kebutuhan untuk merasa memiliki, harga diri dan aktualisasi diri); kebutuhan untuk stimulation (pemenuhan dan aktualisasi diri); kebutuhan akan security (bebas dari ancaman, serangan dari luar dan kepercayaan diri sendiri); dan kebutuhan akan frame of reference (segala sesuatu yang melibatkan pemeliharaan hubungan seseorang dengan yang lainnya atau lingkungan sekitarnya). Konsep fungsi teritori yang diungkapkan Lang, juga diungkapkan oleh Porteus dalam Amiranti (2012), yaitu fungsi dari teritori adalah mekanisme untuk mempertahankan hidup (misalnya mengontrol ruang untuk keberlangsungan hidup); memberikan security, stimulation dan identity yang merupakan dasar yang kuat untuk pengidentitasan diri, integritas pribadi dan kebutuhan bertahan hidup secara fisik; dan memberikan frame of reference terkait dengan lingkungan. Jadi fungsi untuk kebutuhan akan identity ini dikaitkan dengan kebutuhan psikologis manusia, sedangkan stimulation dan security dikaitkan dengan kebutuhan fisik dan fisiologis, dan frame of reference dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan sosial.
    Sedangkan mekanisme kontrol territorial bisa melalui mekanisme pertahanan (dimana mekanisme pertahanan ini menciptakan defensible space) dan mekanisme personalisasi (dimana mekanisme personalisasi ini menciptakan personal and personalized space). Mekanisme control terhadap pertahanan memerlukan hirarki dan tipe dari teritori yang jelas. Hirarki dan tipe dari teritori diperlukan agar tercipta perasaan yang baik dan membantu menjaga perasaan keamanan seseorang (hirarki dari teritori adalah adanya penanda yang jelas antara ruang privat, semi privat-semi public dan ruang publik). Hirarki teritori ini penting di dalam masyarakat yang memerlukan keamanan. Oscar Newman dalam Lang (1987) menuliskan beberapa hipotesa mengenai bagaimana mekanisme ini disimpan dan membantu kontrol territorial lingkungan mereka terhadap individu dan grup. Kontrol mekanisme ini dikonsepkan di dalam defensible space. Newman dalam Lang (1987) mendefinisikan defensible space sebagai kondisi pengganti untuk serangkaian mekanisme – pembatas yang nyata dan simbolik, area pembatas yang jelas, dan kemungkinan peningkatan untuk pengawasan – yang dikombinasikan untuk membawa sebuah lingkungan di dalam kontrol kepada penghuninya. Sebuah defensible space adalah sebuah lingkungan residensial hidup dimana bisa dihuni, dan para penghuninya bisa menyediakan keamanan untuk keluarga, tetangga dan teman. Mekanisme kontrol terhadap personalisasi sebuah ruang selalu terkait dengan identitas diri dan penandaan terhadap tempat. Ruang personal kita seringkali sebuah gelembung tiga dimensional yang berada di sekitar kita dan bergerak dengan kita (Aiello dalam Sally Augustin, 2009). Gelembung ini bisa dimasuki dengan ijin dan ukurannya tergantung dari budaya dan situasi. Ketika ruang personal kita dilanggar, maka kita akan merasakan stress. Ruang personal kita kita hanya sebuah bola, namun lebih kepada sekelompok bola-bola, dimana tiap bola ini digunakan sesuai dengan situasi yang berbeda (hal ini disebut sebagai zona ruang interpersonal). Edward T. Hall mengenalkan ada tiga zona gelembung dengan kita berada di tengah yaitu zona intim, personal dan sosial. Namun pada kenyataannya gelembung kita tidak berbentuk sebuah bola sempurna, tetapi gelembung kita jauh mengarah ke belakang kita – dan ini merupakan salah satu alasan mengapa kita lebih menyukai untuk duduk di depan sebuah dinding.

    BalasHapus
  3. Part 3
    Ada beberapa macam tipe teritori yang diungkapkan oleh Porteus dalam Lang (1987), Hussein El-Sharkawy dalam Lang (1987), Altman dalam Hadinugroho (2002) dan Sommer dalam Wilson (1984. Porteus di dalam Lang (1987) mendefinisikan tiga tipe teritori, yaitu:
    1. Personal Space (ruang diri sendiri)
    2. Home Base (ruang yang dipertahankan secara aktif)
    3. Home Range (seting perilaku yang terbentuk dari kehidupan seseorang – terkait aktivitas)
    Sedangkan Hussein El-Sharkawy dalam Lang (1987) mengategorikan ada empat tipe teritori, yaitu:
    1. Attached Territory (gelembung ruang / space bubble)
    2. Central Territory (ruang yang bisa dipersonalisasi seperti ruang kerja / workstation)
    3. Supporting Territory (ruang yang bersifat semi privat – ruang yang bisa dimilki oleh sebuah asosiasi atau semi publik – ruang yang tidak dimiliki oleh siapapun)
    4. Peripheral Territory (ruang publik – digunakan oleh individu atau grup tetapi tidak dipersonalisasi atau tidak dimiliki)
    Irwin Altman dalam Hadinugroho (2002) ada tiga tipe teritori:
    1. Teritori primer (dimiliki dan dipersonalisasi sebagai tindakan permanen dari pemilik; yang lain menganggap bahwa teritori ini dimiliki oleh pemilik dalam jangka waktu yang lama; pemilik mempunyai kontrol penuh terhadap terhadapnya)
    2. Teritori sekunder (tidak dimiliki dan bisa dipersonalisasi, dan boleh dipersonalisasi dalam jangka waktu tertentu; hanya digunakan oleh pengguna dianggap mampu dan berkualitas untuk menggunakannya; ada beberapa hak untuk mengontrol dari pengguna ketika pengguna itu menggunakannya.)
    3. Teritori publik (tidak dimiliki dan terkadang bisa dipersonalisasi dalam jangka waktu sementara; bisa digunakan oleh kemungkinan banyak pengguna; pengontrolan sangat sulit)
    Robert Sommer di dalam Wilson (1984) mengkategorikan empat tipe teritori, yaitu:
    1. Teritori Publik seperti taman yang bisa memberikan kebebasan akses untuk manusia
    2. Teritori Rumah dimana area public yang diambil oleh seseorang atau grup seperti toilet atau sirkulasi di dalam area kantor terbuka / open office.
    3. Teritori Interaksi yaitu area dimana pertemuan sosial mungkin ada seperti pada ruang keluarga.
    4. Teritori badan adalah teritori yang paling privat dan dimiliki oleh individu, misalnya sebuah kamar tidur.

    BalasHapus
  4. Part 4
    Studi Kasus Interior Kantor Superwoman
    Studi kasus yang akan dievaluasi adalah interior kantor Superwoman. Superwoman adalah sebuah perusahaan yang menawarkan jasa pengelolaan keuangan yang melayani khusus hanya pelanggan wanita. Desainer interior dari kantor ini, Greg Natale membangun sebuah konsep yang berbeda dari kantor pada umumnya, yaitu membuat klien wanita merasa langsung berada di rumah, ketika mereka berada di kantor Superwoman ini. Efek yang ingin dihasilkan adalah santai, hangat dan menarik mata.
    Dari layout kantor Superwoman maka dapat disimpulkan bahwa kantor Superwoman ini adalah sebuah kantor dengan jasa konsultan dengan tipe desain kategori kantor nonterritorial (yaitu kantor dimana setiap pekerja individualnya tidak memerlukan kantor dengan dedikasi personal, meja kerja atau meja, tetapi lebih menggantungkan sistem reservasi tempat meja kerja) (Becker, 1995). Kantor dengan kategori ini banyak digunakan oleh kantor-kantor dimana kebanyakan pekerjanya hanya berada di kantor 25-40% dari sepanjang waktu bekerja mereka. Kantor seperti ini contohnya adalah kantor untuk jasa konsultan dan sales. Meskipun pekerja di kantor ini tidak memerlukan meja kantor yang dipersonalisasi secara individu untuk mengakomodasi kebutuhan dan aktualisasi diri personal mereka, namun tetap saja kantor ini memerlukan grup teritori untuk berinteraksi dan kebutuhan teritori untuk memenuhi kebutuhan interaksi itu.
    Dari layout kantor Superwoman, kita dapat memberikan evaluasi terhadap tipe teritori berdasarkan pembagian ruangannya dan mekanisme pengontrolannya. Ruang resepsionis dan ruang child care (biru) termasuk tipe teritori publik / peripheral dimana tidak dimiliki dan tidak dipersonalisasi dan ruang ini mekanismenya keamanannya masih terkontrol dan bisa diawasi karena dikelilingi oleh ruang konsultasi (defensible space terkontrol). Sedangkan ruang konsultasi (oranye) termasuk kategori teritori sekunder, supporting dan Interaction territory dimana bisa digunakan oleh orang yang berkepentingan, namun tidak dimiliki oleh individu tertentu dan bersifat semi-publik sehingga tidak terlalu dipersonalisasi oleh individu. Ruang kerja open plan (ungu) dan ruang meeting (hijau) termasuk kategori teritori sekunder, central dan home territory dimana hanya digunakan oleh yang berkepentingan, tidak dimiliki namun bersifat semi privat dimana masih bisa dipersonalisasi dalam jangka waktu tertentu dan orang yang bekerja di dalamnya masih bisa berinteraksi dengan orang lain. Ruang pantry (merah) termasuk kategori teritori publik, dimana tidak dimiliki dan tidak dipersonalisasi, namun ruang ini masih terkontrol keamanannya karena aksesnya dikontrol oleh penghuni yang berada pada ruang kerja open plan.

    BalasHapus
  5. Part 5
    Pada area resepsionis dan child care kantor Superwoman pemenuhan kebutuhan akan identitas (identity) dan stimulasi (stimulation) dipenuhi melalui adanya identitas kefeminiman dari perusahaan. Logo dari perusahaan jelas menunjukan ke-fiminim-an, apalagi dibantu dengan adanya logo wanita pada huruf O tulisan SUPERWOMAN. Meja resepsionis yang berbentuk lengkung juga memperkuat identitas feminim (bentuk lengkung adalah bentuk feminim). Selain itu korden, lampu bulat dan tanaman menambah suasana ke-feminim-an dari ruang publik kantor ini. Kantor ini juga memenuhi kebutuhan akan keamanan (security) dan frame of reference baik dari klien maupun staf, melalui penataan meja resepsionis yang frontal langsung berhadapan dengan pintu masuk yang terbuat kaca akan memberikan efek rasa aman sekaligus memungkinkan terjadinya interaksi langsung ketika berada di dalam ruang resepsionis tersebut.
    Pada area konsultasi kantor Superwoman, pemenuhan kebutuhan akan identitas (identity) dan stimulasi (stimulation) dipenuhi melalui adanya identitas kefeminiman dari perusahaan. Melalui warna ungu dengan motif floral dan juga gambar wanita pada dinding kaca, identitas dan stimulasi kefeminiman tercapai. Meja dan kursi yang berbentuk tidak kaku (banyak memiliki sudut lengkung) juga memperkuat identitas feminim. Kantor ini juga memenuhi kebutuhan akan keamanan (security) dan frame of reference baik dari klien maupun staf. Pembatas ruang konsultasi yang terbuat kaca akan memberikan efek rasa aman sekaligus privasi ketika klien berkonsultasi. Tiga kursi yang disusun melingkar dengan meja berbentuk lingkaran (diameter meja ±100 cm) memungkinkan terjadinya interaksi komunikasi yang akrab dan mendekatkan ketika berada di dalam ruang konsultasi tersebut. Interaksi ini juga diperkuat dengan adanya pola lantai dari karpet warna hitam yang berbentuk lingkaran dan berada di bawah kursi dan meja
    Pada area kerja open plan kantor Superwoman, pemenuhan kebutuhan akan identitas (identity) bukan kepada kebutuhan personal individu tiap pekerja, namun lebih kepada kebutuhan identitas dari perusahaan. Pada tiap meja kerjanya, tidak ada personalisasi dan dekorasi individu dari para pekerja, yang ada adalah personalisasi identity dari dekorasi perusahaan Superwoman yang berkarakter feminim. Dekorasi feminim ini bisa dilihat dari penggunaan warna oranye dengan motif floral pada dinding pembatas pada meja kerja dan penggunaan korden yang lembut. Dekorasi dan penataan feminism ini juga memberikan stimulation karena kebutuhan untuk ruang feminim pada kantor dipenuhi (para pekerja di kantor ini kebanyakan perempuan). Selain itu layout dari meja kerja yang disusun cukup berdekatan (meja berukuran ±120 x 60 cm dengan pembatas setinggi ±100 cm) juga menunjukan adanya pemenuhan kebutuhan frame of reference untuk berinteraksi ke samping dan ketika berdiri berhadap-hadapan. Penataan ini juga sekaligus memberikan rasa aman (security) dan privasi (karena adanya pembatas yang cukup tersembunyi ketika pengguna duduk).

    BalasHapus
  6. Part 6
    Pada area meeting room kantor Superwoman, pemenuhan kebutuhan akan identitas (identity) dan stimulasi (stimulation) pada kebutuhan identitas dari perusahaan. Meja meeting yang berwarna oranye, bentuk kursi yang bulat-bulat, menunjukkan personalisasi identity dan stimulation dari perusahaan Superwoman yang berkarakter feminim. Selain itu layout dari meja dan kursi menunjukan adanya pemenuhan kebutuhan frame of reference untuk berinteraksi ketika meeting berlangsung (ke samping dan berhadap-hadapan). Penataan ini juga sekaligus memberikan rasa aman (security) dan privasi ketika ada meeting antar staf. (karena adanya pembatas dari kaca dan lokasinya berada di belakang area kerja).
    Pada area pantry yang termasuk area service dan sifat teritorinya publik, tidak ada kebutuhan akan identitas, stimulasi dan frame of reference di dalam ruang tersebut. Namun dari layout dengan dinding tertutup dan hanya ada satu akses dan menggunakan pintu, dapat dilihat bahwa kebutuhan akan keamanan / security terpenuhi. Orang yang berada di dalamnya dapat merasa aman karena dibatasi oleh dinding yang tertutup.
    KESIMPULAN AKHIR
    Di dalam studi kasus interior kantor Superwoman, jelas terlihat bahwa konsep territoriality digunakan oleh perancangnya di dalam mendesain interior. Hanya saja memang perancang tidak mempersonalisasinya secara individu, namun lebih kepada personalisasi dan branding image dari perusahaan Superwoman. Tetapi untuk kategori tipe teritori sekunder dan public, perancang berusaha memenuhi semua kebutuhan fungsi teritori.
    REFERENSI
    Augustin, Sally (2009) Place Advantage:Applied Psychology for Interior Architecture. New Jersey: John Wiley & Sons Inc.
    Amiranti, S (2012) Catatan Mata Kuliah Arsitektur Perilaku 1. Tidak Dipublikasikan
    Becker, Franklin. & Fritz Steele (1995) Workplace by Design. California: Jossey - Bass Inc.
    Delaney, David (2005) Territory: a short Introduction. London: Blackwell Publishing Ltd.
    Gissen, David. (2010). Territory Architecture Beyond Environment. Architectural Design Vol 80 No 3, May/June 2010, 8-13.
    Hadinugroho, Dwi L., (2002). Jelajah Pembentukan Tempat pada Rumah Jawa (Dengan Pendekatan Territorial Behavior). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1312/1/arsitek-dwi6.pdf. diunduh 4 March 2011
    Hall, Edward T. (1966) A Hidden Dimension. New York: Doubleday
    Lang, Jon (1987). Creating Architectural Theory. The Role of the Behavioral Science in Environmental Design. New York: Van Nostrand Reinhold Company
    Moxham, Charles. Firm but Fair from Commercial Design Trends Volume 2504. http://trendideas.com/Article12340/TheGulfAndAsia, Diunduh 3 Januari 2012
    Rapoport, Amos (1969) House Form and Culture. Prentice Hall
    Wilson, Forest (1984). A Graphic Survey of Perception and Behavior for the Design Professions. New York: Van Nostrand Reinhold Company.

    BalasHapus
  7. Muhammad Nurwahyu
    3211202001

    Arsitektur Perilaku
    Territoriality

    Bagian 1


    I. PENDAHULUAN

    Sebagaimana kita ketahui, setiap makhluk hidup memiliki kecenderungan untuk meng-klaim suatu tempat sebagai kepemilikannya. Entah itu dalam batasan yang terlihat maupun dalam batasan yang lain. Semisal pada kucing yang menandai teritorinya dengan menggunakan urinnya sehingga ketika kucing lain mencium bau urin kucing penguasa kawasan tersebut, maka kucing pendatang tersebut akan menghindari kawasan tersebut dan mencari sumber pangan di kawasan yang belum ditandai oleh kucing lain.
    Klaim atas area ini juga dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi sikap dan pandangan bagi setiap individu atau kelompok berbeda baik dari segi perlakuan maupun dari segi fleksibilitas terhadap klaimnya. Dalam hal ini dapat dicontohkan dengan adanya perseteruan antar warga yang meng-klaim kepemilikan atas tanahnya secara petok, ada pula yang secara akte tanah yang tertulis. Akan tetapi ada juga yang memilih jalan damai dengan diskusi kekeluargaan sebagai upaya yang dilakukan. Kecenderungan kecederungan ini pada dasarnya secara simultan dapat dikaitkan dengan isu-isu perancangan arsitektural. Karena jika ditinjau dari segi kenyamanan, maka tiap manusia memiliki kebergantungan terhadap pemenuhan kebutuhan dan motivasinya terhadap teritori, dalam porsinya masing-masing. Semisal bagi wanita, ruang gerak keamanannya akan terusik jika seorang pria berada terlalu dekat dengannya kecuali bagi orang yang dikenalinya. Atau ketika sebuah rumah dalam perumahan bertipe cluster dihuni oleh orang yang biasa hidup dalam tipe perumahan yang mediteran yang notabene memiliki pagar. Tentu rasa aman yang secara bawah sadar yang selama ini dicerna dan men-dikotomi orang tersebut menjadi terusik akibat ketiadaan pagar di tipe cluster.
    Kedekatan hubungan antara kenyamanan, kebutuhan dan motivasi terhadap pemenuhan teritori ini dengan sebuah perancangan arsitektural, mengakibatkan perlunya penelitian dan pembelajaran terhadap territoriality. Sehingga nantinya sebuah desain dapat memenuhi fungsi dan motivasi terhadap adanya teritori dari masing-masing individu maupun kelompok. Meskipun begitu, kenyamanan ini tidak akan menjamin adanya kepuasan dari individu atau kelompok tersebut. Karena variabel penentu kepuasan ini tidak terukur, berbeda dengan tingkat kenyamanan yang dapat diukur.

    BalasHapus
  8. Bagian 2

    II. TEORI-TEORI TERRITORIALITY

    II.1. TERRITORIALITY SEBAGAI PERILAKU SPASIAL (PORTEUS, 1977)

    Bagi Porteus (1977), territoriality merupakan sebuah tindak atau perilaku spasial yang melibatkan kontrol khusus terhadap teritori oleh individu ataupun kelompok, yang bersifat intraspesifik. Perilaku spasial ini turut melibatkan agresi dan memberikan hak bagi individu/kelompok tersebut terhadap ruang yang bersangkutan. Perilaku spasial tersebut merupakan akibat dari adanya motivasi dan fungsi yang dianggap penting terkait dengan teritori. Sehingga perlu adanya tindak atau perilaku mempertahankan dan atau membatasi teritori yang dimaksud oleh individu/kelompok tersebut.

    Berikut merupakan motivasi dan fungsi dari sikap mempertahankan teritori yang dimaksud:

    - Mekanisme kontrol dari kawasan tinggal bagi individu/kelompok utamanya dari pemanfaatan wilayah dalam segi ketersediaan sumber daya alam dan proses berkembang biak (memiliki keturunan).
    - Adanya kebutuhan terhadap rasa aman, stimulasi dan identitas yang menjadi hal yang fundamental bagi penunjukan jati diri, integritas personal dan keberlangsungan dan kesehatan psikis, yang mana jika tidak terpenuhi akan muncul perasaan terusik, skeptis dan dapat berujung pada gangguan kejiwaan (ex: stressful, schyzophrenia, multiple personality disorder, dll)
    - Adanya kebutuhan terhadap perasaan “kenal” terhadap lingkungan sekitarnya, utamanya dalam kaitannya dengan manusia dalam kelompok dimana mereka tinggal(ex: tetangga). Kebutuhan ini merupakan manifestasi dari psikologi sosial yang umum dijumpai ketika kita berada di kawasan publik. Terdapat kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang yang sudah kita kenal dibandingkan dengan berinteraksi dengan orang yang belum kita kenal.

    Motivasi tersebut di atas, jika dirunut dan diperhatikan dapat diantisipasi dalam sebuah mekanisme kontrol teritorial. Dalam mekanisme teritorial ini terdapat dua upaya utama yang menjadikan sebuah teritori dapat dikatakan sebagai teritori mereka. Berikut merupakan mekanisme kontrol teritorial yang dimaksud:

    - Defense mechanism – Sikap mempertahankan teritori sebagai sebuah area yang terintegrasi yang dapat dilakukan melalui pembatasan kawasan baik secara fisik, maupun psikologis. Pembatasan ini sekaligus menjadi upaya pengamanan terhadap teritori tersebut dari intrusi dari individu/kelompok lain.
    - Personalization mechanism – personalization mechanism atau mekanisme personalisasi ini merupakan upaya menunjukkan jati diri kepemilikan dari sebuah teritori melalui simbolisasi tertentu. Sehingga nantinya akan ada pengekangan secara psikologis maupun fisiologis dalam bersikap dari individu/kelompok lain ketika mereka memasuki teritori tersebut.

    BalasHapus
  9. Bagian 3

    Teritori dapat dipecah dalam 3 skala organisasi, skala ini dibagi berdasarkan atas luas cakupan dari masing-masing teritori. Berikut merupakan penjabaran dari skala organisasi tersebut:

    - Micro space
    Micro space ini dapat juga disebut dengan ruang personal yang mana merupakan teritori dengan cakupan terkecil, yang dibatasi oleh psikologis masing-masing individu dan dibutuhkan untuk hadir dan bebas dari penderitaan dari segi fisik maupun psikis. Ruang personal ini secara aktif dipertahankan dari intrusi.
    - Meso space
    Merupakan home base yang jika diposisikan secara skematis terletak diluar cakupan sebuah ruang mikro. Meso space ini lebih luas cakupannya dibandingkan dengan mikro space sehingga lebih bersifat semi permanen dan statis. Akan tetapi ruang ini tetap dipertahankan secara aktif karena sifatnya yang cenderung individual dan atau berhubungan dengan kelompok primer kecil seperti rumah, atau pekarangan atau juga dapat bersifat kolektif seperti dengan tetangga dekat.
    - Macro space
    Merupakan home range yang terletak di luar cakupan home base. Macro space ini secara fungsional memenuhi dorongan atau keinginan individu ataupun kelompok. Sebagai sebuah teritori dengan cakupan luas, maka macro space ini merupakan wadah bagi individu-individu untuk bergabung dalam kelompok kelompok. Sehingga tidak memiliki satu ciri khusus atau spesifik.

    Terkait dengan pembahasan skala organisasi territorial, perilaku ruang personal merupakan perilaku yang mengarah kepada sikap mempertahankan privasi pada teritori di sekitar individu sehingga menciptakan individual distance. Perilaku ini tak lain berfungsi sebagai jaminan atas ketersediaan jarak bagi individu dalam sebuah kelompok yang bertujuan mengurangi stress, meningkatkan integritas pribadi, privasi, komunikasi antar pribadi dan kohesi kelompok. Selain itu ruang personal ini juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol territorial dan mekanisme mempertahankan interaksi individu yang optimal.
    Penyediaan kebutuhan personal space merupakan suatu mekanisme dasar untuk memenuhi pencapaian privasi. Personal space merupakan suatu area dengan batas tak terlihat di sekeliling tubuh manusia, dimana intursi tidak diizinkan. Apabila area dalam lingkungan tersebut, baik alami ataupun buatan, telah ditandai sebagai suatu teritori maka area tersebut menjadi personalized space. Personalisasi mengarah kepada penandaan (simbolisasi) suatu tempat atau obyek, sebagai klaim kepemilikan sebagai manifestasi kebutuhan kontrol teritorial dan wujud aktualisasi diri serta benntuk pengekangan pola perilaku bagi pihak kedua atau ketiga. Defensible space dibutuhkan bagi sistem pengamanan atau kontrol dari personalisasi tersebut. Defensible space sendiri merupakan ruang gerak mekanisme perilaku untuk mengontrol lingkungan oleh penghuninya melalui batas-batas nyata atau simbolik sebagai bentuk pengawasan atas teritorinya. Terdapat berbagai situasi dimana pelanggaran terhadap personal space bisa ditoleransi karena terdapat mekanisme perilaku tertentu untuk mempertahankan privasi.

    BalasHapus
  10. Bagian 4

    II.2. RUANG PERSONAL SEBAGAI BAGIAN DARI RELASI INTERPERSONAL (HALL, 1966)

    Ruang personal juga dapat dikatakan sebagai suatu komponen jarak dalam relasi interpersonal. Ia menjadi indikator, sekaligus menjadi bagian integral dari hubungan inetrpersonal. Apakah hubungan itu berkembang menuju keakraban, keintiman dan atau sebaliknya. Edward Hall (1966) berpendapat bahwa ruang personal adalah jarak dalam berkomunikasi, dimana jarak antar individu ini dikategoriakan menjadi empat jenis:

    a. Jarak intim (fase dekat < 0,15 m, fase jauh 0,15-0,5 m) jarak ini biasanya ditemui pada pasangan kekasih/suami-istri, saudara dekat dan berada dalam teritori yang lebih bersifat privat
    b. Jarak personal (fase dekat 0,5-0,75 m; fase jauh 0,75-1,2 m) pada jarak ini ikatan persahabatan yang kental dan ikatan persaudaraan banyak ditemui dan berada dalam lingkup teritori yang tidak terbatas, sehingga bias terjadi dalam ruang publik sekalipun.
    c. Jarak sosial (fase dekat 1,2-2,1 m; fase jauh 2,1-3,6 m ) terjadi di antara saudara jauh, tetangga dekat, mahasiswa-dosen dan juga orang yang baru saja dikenal, lingkup ruang terjadinya lebih ke area yang bersifat publik.
    d. Jarak publik (fase dekat 3,6-7,5 m; fase jauh > 7,5 m) dapat kita lihat pada kawasan publik seperti taman kota, mall, maupun kawasan publik lainnya.

    Jarak ini merujuk pada jarak obyektif. Para peneliti, mengamati jarak ini sebagai orang ketiga atau sebagai pengamat. Akan tetapi, jika diaplikasikan di lapangan, manusia melakukannya dengan dasar jarak yang dipersepsinya (perceived distance), bukan jarak obyektif melainkan jarak interpersonal. Hingga ruang personal ini merupakan jarak yang memiliki variabel pendekatan yang berdasarkan pada sub-system masing-masing individu.

    - Kultur – Pengaruh kultur mempengaruhi persepsi atau cara pandang individu atau kelompok dalam menanggapi jarak. Sebagaimana dicontohkan oleh kaum arab yang memiliki kebiasaan untuk bersalam sapa dan berjabat tangan dan memeluk satu sama lain bila bertemu dengan kelamin sejenis dan tidak berkontak fisik dan mata dengan lawan jenis kecuali dengan mahramnya. Berbeda dengan kaum eropa yang memiliki kecenderungan untuk mencium pipi terhadap sejenis maupun lawan jenis.
    - Fisiologi – Fisiologi dikaitkan dengan reaksi kenyamanan fisik dari individu, dimana dapat dicontohkan ketika kita berada di tempat yang gerah kita cenderung untuk mengambil jarak satu sama lain untuk mendapatkan kenyamanan baik dari segi thermal maupun dari segi
    - Sosial – Terdapat sebuah kecenderungan dalam sebuah komunitas masyarakat yang mempengaruhi cara pandang dalam bersosialisasi. Hal ini menyebabkan perbedaan cara pandang terhadap ruang personal. Semisal dalam sebuah perumahan elit yang antar tetangga tidak terlalu mengenal satu sama lain, tentu akan berbeda cara pandangnya dengan perkampungan yang warganya seringkali bersosialisasi satu sama lain dan lingkup ruang personalnya sangat fleksibel.
    - Personaliti – Tiap individu memiliki kecenderungan yang berbeda ketika menghadapi orang lain. Ada yang memiliki sifat introvert ada pula yang memiliki sifat extrovert meskipun sedang berkomunikasi dengan orang belum dikenal sekalipun dan begitu pula sebaliknya.
    - Jenis kelamin dan usia – Jenis kelamin dan usia sangat mempengaruhi cara pandang, perilaku menghadapi maupun fleksibilitas ruang personal manusia. Semakin matang usia maka fleksibilitas dan cara pandang manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi semakin defensive karena sudah terliputi oleh banyak rasa takut dari pengalaman-pengalaman tertentu. Sedangkan dari jenis kelamin, pria memiliki kecenderungan untuk memiliki ruang personal yang kuat namun sekaligus fleksibel.
    - Lingkungan – Dalam sebuah lingkungan, masing masing individu dapat terpengaruh dari persepsinya tentang ruang personal, hingga berakibat pada perilakunya terhadap ruang personal yang dimilikinya.

    BalasHapus
  11. Bagian 5-selesai

    III. SIMPULAN AWAL KAJIAN

    - Sebuah teritori memiliki kecenderungan untuk diklaim oleh pihak tertentu yang merasakan adanya kebutuhan kebutuhan dan motivasi tertentu

    - Teritori sendiri merupakan lingkup jarak terkait dengan hubungan interpersonal, sehingga bersifat subyektif pada masing-masing individu

    - Territoriality merupakan sebuah tindak atau perilaku spasial yang melibatkan kontrol khusus terhadap teritori oleh individu ataupun kelompok, yang bersifat intraspesifik

    - Sikap mempertahankan teritori dapat dilakukan melalui defence mechanism maupun personalization mechanism

    - Mekanisme tersebut di atas melibatkan batasan fisik, fisiologis maupun psikis, melibatkan pengekangan perilaku, melibatkan personalisasi wilayah melalui simbolisasi, dan juga penunjukan identitas dan jati diri

    - Cakupan teritori dapat dikategorikan menjadi 3 yakni; mikro, meso dan makro

    - Pembagian ketiganya tersebut berdasar luasan cakupan dan masing-masing memiliki karakteristik mempertahankan dan juga karakter teritori yang berbeda

    - Personal space merupakan sebuah kebutuhan yang membutuhkan adanya individual distance

    - Individual distance dapat tercapai dengan cara adanya sebuah mark off atau simbolisasi terhadap teritori, sehingga tercipta sebuah personalized space

    - Personalized space dapat memunculkan defensible space yang dibutuhkan sebagai ruang gerak tiap individu untuk mempertahankan teritori nyaman baginya

    - Personal space yang dapat dianggap sebagai komponen jarak dalam relasi interpersonal menentukan/ditentukan tingkatan relasi interpersonal, apakah relasi tersebut bersifat intim, personal, akrab ataupun sebaliknya

    - Tipe dari personal space ini sendiri dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yakni intim, personal, sosial dan publik

    - Sifat dari tipologi di atas bagi tiap individu atau kelompok sangat dipengaruhi oleh general sub-system yakni kultur, fisiologi, social, personality, usia dan jenis kelamin, dan juga lingkungan

    Referensi
    -Kerta kerja Amiranti mata kuliah Arsitektur Perilaku-RA 092351-2012/2013
    -http://www.madisonsquarepark.org/
    -http://www.arcspace.com/features/zvi-hecker/the-heinz-galinski-school/

    Muhammad Nurwahyu
    3212202001

    ARSITEKTUR PERILAKU
    TERRITORIALITY

    BalasHapus
  12. Tugas Arsitektur Perilaku Perilaku 1
    Nama : Fratika Julia
    NRP : 3212202002
    Topik bahasan : Penerapan Fungsi Konsep Territoriality

    Bagian 1
    1. PENGERTIAN TERITORI DAN TERITORIALITAS

    Teritori adalah ruang yang dikuasai/dikendalikan oleh individu atau kelompok dalam memuaskan motif/kebutuhan dan ditandai dengan konkrit/simbolik serta dipertahankan.
    Istilah teritori dan teritorialitas merujuk pada sekelompok setting perilaku, dimana seseorang ingin menjadi diri sendiri atau menyatakan diri, memiliki dan melakukan pertahanan.

    Teritorialitas memiliki 5 ciri yang menegaskan yaitu :
    - Ber-ruang
    - Dikuasai, dimiliki, atau dikendalikan oleh seseorang individu atau kelompok
    - Memuaskan beberapa kebutuhan/motif (misalnya, status)
    - Ditandai baik secara konkrit atau simbolik
    - Dipertahankan atau setidak-tidaknya orang merasa tidak senang bila dimasuki/dilanggari dengan cara apapun oleh orang asing.
    Teritorialitas adalah suatu set perilaku dan kognisi yang ditampilkan oleh individu atau kelompok yang didasarkan pada pemahaman atas kepemilikan ruang fisiknya.
    2. RUANG PERSONAL DAN RUANG TERITORI
    Ruang personal menurut Sommer adalah daerah disekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Dan menurut Goffman adalah jarak/daerah disekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.
    Perbedaan ruang personal dan teritorialitas yaitu ruang personal di bawa kemanapun seseorang itu pergi sedangkan ruang teritorialitas secara geografis merupakan daerah yang tidak berubah-ubah
    Beberapa elemen-elemen dalam ruang teritori yaitu kepemilikan atau hak dari suatu tempat, personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu, hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar, pengatur dari beberapa fungsi, mulai bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika.

    BalasHapus
  13. bagian 2

    4. FUNGSI TERITORIAL
    Ada 3 pandangan territorial manusia yaitu Instinctive, learned, dan interkasi keduanya. Menurut pandangan instinctive tingkah laku territorial pada manusia dan hewan dipengaruhi oleh naluri, adanya dorongan untuk mengklaim dan mempertahankan teritori. Pandangan bahwa teritorialitas sebagai sesuatu yang dapat dipelajari mengatakan, bahwa teritorialitas manusia merupakan hasil dari pengalaman masa lalu dan dari budaya. Pandangan terakhir mengatakan bahwa teritorialitas adalah suatu proses interaksi antara naluri dan pembelajaran. Pandangan ini mengatakan bahwa keduanya saling memberikan sumbangan pada aksi territorial. Naluri merujuk pada beberapa jenis perilaku territorial dasar, sementara pembelajaran lebih kompleks (Esser, 1976).
    Berdasarkan sejarahnya teori-teori instinctive lebih sering dipakai pada saat menjelaskan perilaku teritorial pada binatang, sedangkan pandangan teori pembelajaran (learned) lebih sering digunakan dalam menjelaskan perilaku territorial pada manusia.
    Ada perbedaan antara manusia dan binatang pada mekanisme yang bertanggung jawab untuk perilaku territorial, maka ada perbedaan dalam fungsi perilaku teritorial pada masing-masing organism. Perlu di ingat bahwa binatang memiliki teritori untuk fungsi penting seperti kawin, berkumpul dengan sejenisnya, mengumpulkan makanan dan melindungi persediaan makanan, tempat tinggal, serta pengurangan agresi antar species. Sedangkan pada manusia menjadi lebih fleksibel berkenaan dengan penggunaan teritori dalam fungsi seperti misalnya banyak teritorialitas manusia tidak berhubungan langsung dengan cara bertahan hidup, tetapi dapat dilihat lebih sebagai “pengorganisasian” berbagai dimensi. Misalnya adanya pranata dan kestabilan hidup (Edney, 1975).
    Bagaimana teritori-teritori berfungsi untuk mengorganisasi segala sesuatu tergantung dari ruang-ruang tertentu sebagaimana diuraikan pada tabel yang telah dijelaskan sebelumnya. Teritorialitas berhubungan dengan perasaan berbeda, privasi dan identitas personal. Teritorialitas manusia lebih merujuk kepada elemen-elemen social, cultural dan kognitif, sementara teritorialitas binatang lebih kepada kebutuhan hidup. Teritorialitas manusia juga diasosiasikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi.
    Bagaimanapun, alasan mengenai pertahanan territorial manusia dibanding binatang pada tingkat yang lebih rendah adalah bahwa manusia biasanya mengenali dan menghindari teritori milik orang lain, yang tentunya bervariasi jenis teritorinya

    4. ISYARAT TERITORIALITAS
    Cara untuk mengkomunikasikan kepemilikan teritorial kepada orang lain yaitu dengan memberikan sebuah penanda. Dengan cara ini dapat mengamankan miliknya dan karena itu menentramkan hatinya (Barber, 1990).
    Penanda tradisional(misalnya buku dan mantel) maupun non-tradisional (misalnya graffiti), penanda non-verbal ini digunakan untuk mengkomunikasikan klaim teritorial. Penelitian juga menunujukkan bahwa pelanggan restoran memegang piring mereka ketika mereka ingin melakukan klaim teritorial (Truscott, Parmelee, &Werner, 1977).

    BalasHapus
  14. bagian 3

    5. PENELITIAN TENTANG TERITORIALITAS
    I. Perilaku Teritorial Antar Kelompok
    Contoh tentang teritorial kelompok yang ditemui pada analisa perilaku kelompok preman jalanan di Philadelphia (Ley & Cybriwsky, 1974a). Ditemukan bahwa kelompok preman jalanan tersebut sangat tinggi teritorialitasnya dan seringkali nama mereka dipakai untuk menandai daerah mulai dari persimpangan jalan sampai pusat teritorinya. Masing-masing kelompok preman member tanda batas pada teritorinya, dan wilayah teritorial dikenali oleh anak-anak muda baik yang masuk kelompok maupun yang tidak. Orang luar biasanya menghindari wilayah mereka karena biasanya disambut dengan permusuhan ketika memasukinya.
    Aksi tersebut diatas dapat menciptakan kepercayaan di dalam kelompok. Berbagi teritori dalam suatu daerah dapat mendorong ke arah tumbuhnya identitas kelompok dan rasa aman. Barangkali karena orang-orang pada teritori yang sama berbagi pengalaman yang sama pula (Taylor,1978). Keamanan dalam suatu teritori adalah penting. Bagaimanapun kohesi kelompok sebagai hasil teritorialitas juga dapat menghasilkan pengaruh negatif.
    II. Perilaku Teritorial Dalam Kelompok
    Anggota kelompok sering mengadopsi area tertentu sebagai “milik mereka”. Dalam teritori-teritori primer, keluarga mempunyai aturan-aturan teritorial yang memfasilitasi fungsi-fungsi rumah tangga (Ahrenzen, Levine, Michelson, 1989; Sebba & Chucchman,1983). Ini mendukung organisasi social keluarga yang memperbolehkan perilaku-perilaku tertentu oleh beberapa anggota keluarga pada daerah-daerah tertentu.
    Sebuah usaha untuk menginterpretasikan konflik atas sebuah masalah yang kemukakan oleh (Sundstrom 1976). Ia mengatakan bahwa apakah individu yang lebih dominan memilih perilaku teritorial lebih tinggi atau lebih rendah, tergantung pada konteks situasi. Ia mengatakan bahwa di lingkungan yang menawarkan hanya sedikit tempat yang diinginkan individu yang dominan akan berada di tempat-tempat tersebut dan karenanya Nampak memiliki teritorialitas yang tinggi. Kontrasnya, pada lingkungan yang tidak memiliki tempat-tempat tersebut, individu yang dominan akan menjelajahi wilayah yang luas dan Nampak seperti memiliki teritorialitas yang rendah. Namun Esser dkk (1965) mendapatkan bukti tentang hubungan yang berkebalikan antara dominasi dan teritorialitas, yaitu semakin dominan seseorang, semakin rendah teritorialitasnya.
    Taylor (1978) menyatakan, ketika hubungan teritorial dan dominasi terjadi, hal ini dapat memfasilitasi fungsi kelompok. Dia juga mengatakan, jika mereka yang memiliki dominasi tinggi dianggap memiliki akses daerah yang terbaik, ini membantu menjelaskan ekologi kelompoknya dan dengan begitu mengurangi konflik di dalamnya (Taylor, 1978).
    III. Perilaku Teritorial Ketika Sendiri
    Teritorialitas juga terjadi pada individu yang sedang sendiri. Sesungguhnya, penelitian menyatakan bahwa orang-orang merasakan suatu kepemilikan yang lebih kuat dari sebuh setting ketika sendiri dibanding ketika ia menjadi bagian dari suatu kelompok (Edney & Uhlig, 1977).

    BalasHapus
  15. bagian 4

    6. PERSONALISASI TERITORI
    Untuk memperjelas klaim teritorial, orang cenderung mempersonalisasi teritorinya. Beberapa cara untuk mempersonalisasi teritori dapat dicapai dengan cara memberikan peluang kepada tetangga untuk berusaha saling memahami satu sama lain dengan lebih baik dan menjadi lebih kompak (misalnya, membantu menyiram kebun orang, membantu melakukan perbaikan rumah orang) (Brown & Werner, 1985) cara ini memungkinkan orang untuk bisa membedakan antara penduduk dan orang asing. Dengan demikian akan mendorong pengawasan dan memperkecil masalah yang timbul dengan orang luar (Taylor, Gottfredson & Brower,1981).
    Personalisasi dapat menghasilkan rasa keterkaitan pada sebuh tempat dan meningkatkan perasaan nyaman “seperti rumah” (Becker & Coniglio, 1975). Personalisasi juga seringkali merefleksikan identitas diri pemiliknya.
    Berkaitan dengan jenis kelamin dalam personalisasi teritori, banyak buku mengatakan bahwa perempuan lebih banyak melakukan personalisasi dan lebih memiliki perasaan terikat pada rumah ketimbang laki-laki (Sebba & Chuchman,1983; Tognoli,1980). Namun demikian, perasaan terikat pada tempat penting baik bagi perempuan maupun laki-laki, terutama bagi mereka yang tidak punya rumah yang jumlahnya semakin lama semakin banyak (Rivlin, 1990).
    7. TERITORI SEBAGAI PERISAI PERLINDUNGAN
    Apabila individu rela untuk melakukan tindakan agresi demi melindungi teritorinya, makan kelihatannya teritori tersebut memiliki beberapa keuntungan atau hal-hal yang di anggap penting. Pernyataan bahwa teritori itu penting menunjukkan adanya banyak pengaruh-pengaruh positif dalam teritori tersebut.
    Penelitian yang dilakukan oleh Taylor dan Stough (1987) mengenai teritori primer, sekunder, dan publik menunjukkan, bahwa orang cenderung merasa memiliki kontrol terbesar terutama pada teritori primer dibandingkan dengan teritori sekunder dan teritori publik. Rasa berkuasa atau rasa memiliki kontrol menyebabkan individu merasa hidup lebih nyaman dan merasakan pengaruh-pengaruh positif lainnya. Ketika individu mempresepsikan daerah teritorinya sebagai daerah kekuasaanya, itu berarti ia mempunyai kemungkinan untuk mencegah segala kondisi ketidaknyamanan yang terjadi dalam teritorinya. Dan pada tempat-tempat tertentu juga status menentukann “hak teritorial” seseorang.

    BalasHapus
  16. bagian 5

    8. IMPLIKASI DESAIN TERITORI
    Seringkali desain beberapa institusi tidak memperhatikan kebutuhan penghuninya untuk memanfaatkan teritori yang dimilikinya. Sebagian besar rumah sakit jiwa, panti erda, dan penjara tidak memungkinkan para penghuninya untuk mempunyai teritori atau daerah pribadinya sendiri. Padahal jika para penghuni diberi kesempatan untuk memiliki teritori pribadi, maka atmosfir social semakin baik, dan dapat menimbulkan perasaan positif terhadap lingkungan yang ditinggali.
    Mendesain ruang sehingga terlihat seperti milik sendiri mempunyai keuntungan lain. Ketika ruang-ruang memiliki suatu tanda yang membatasi teritori ruang tersebut dengan teritori ruang lainnya, terbukti vandalism dan kejahatan berkurang.
    Implikasi lebih jauh bagi para arsitek dan pendesain teritorial adalah, mereka harus memperhatikan kejelasan status teritori yang akan dihasilkan olehnya. Jangan sampai terdapat jenis teritori yang akan diciptakannya. Misalnya saat hendak merancang teritori primer yang bersifat pribadi atau privat, hindari penggunaan jendela yang terlalu banyak. Karena akhirnya desain demikian akan membuat teritori tersebut menjadi teritori sekunder karena salah pakai. Atau desain itu menimbulkan salah paham pihak lain. Perhatian serius dalam proses desain dapat mencegah terjadinya hal ini

    BalasHapus
  17. bagian 6 - selesai

    9. KESIMPULAN DARI PEMBAHASAN MENGENAI TEORI TERITORILITAS
    - Teritori dan teritorialitas adalah suatu konsep saling ketergantungan alamiah satu dengan yang lain dalam transaksi manusia-lingkungan. Tanpa territorial, maka tidak akan ada teritorialitas, demikian pula sebaliknya.
    - Teritori berbeda dengan ruang personal. Ruang personal sulit terlihat, dinamis mengikuti subjek berpusat pada orang dan mengatur jarak antar individu yang berinteraksi. Sedangkan teritori sesuatu yang terlihat, relatif menetap, berpusat pada tempat, dan mengatur orang yang akan berinteraksi.
    - Banyak pendekatan konseptual yang dapat diterapkan untuk menjalankan fungsi-fungsi yang berbeda dari sebuah ruang personal. Kombinasi dari pendekatan-pendekatan ini berimplikasi bahwa ruang personal memiliki dua fungsi utama yakni perlindungan dan komunikasi
     Jenis kelamin, budaya, usia, kepribadian, dan factor fisik mempengaruhi preferensi ruang personal. Selain itu factor-faktor fisik juga dapat mempengaruhi preferensi ruang personal.
    - Teritori-teritori membuat kita mampu memetakan jenis perilaku yang dapat diantisipasi pada tempat-tempat tertentu, siapa yang kita hadapi, statusnya, dan sebagainya. Dengan cara ini manusia mampu merencanakan dan menjalani kehidupan sehari-hari.
    - Orang yang membuat batas teritorinya bertahan lebih lama dilingkungannya, ketimbang orang-orang yang tidak membuat batas-batas teritorinya. Batas-batas teritorinya adalah objek benda atau tanda-tanda yang membatasi teritori seseorang dengan milim orang lain.

    Referensi :
    - Amiranti, S (2012) Catatan Mata Kuliah Arsitektur Perilaku 1. Tidak Dipublikasikan
    - Halim, Deddy Ph.D. (2005) Psikologi Arsitektur. Jakarta: Indonesia
    - Bell. Paul A, Greene. Thomas C, Fisher, Jeffret D, Baum. Andrew, (2001)Environmental Psychology fifth edition. USA
    - http://loftednest.blogspot.com/2012/07/home-interior-design.html

    FRATIKA JULIA
    3212.202.002

    ARSITEKTUR PERILAKU 1
    T E R I T O R I A L

    BalasHapus
    Balasan
    1. PART 1 - LINDA 3211202001
      1.TERITORI DALAM LINGKUNGAN BINAAN
      Ruang adalah sesuatu yang kita hargai dalam sebuah perancangan lingkungan. Ruang digambarkan sebagai batasan fisik yang dibuat untuk membatasi gerak serta penerimaan stimulus dalam bentuk pandangan dan pendengaran. Akan tetapi, faktanya hal ini juga digambarkan oleh kebiasaan dari organisme yang berada pada ruangan tersebut. Berikut ini adalah beberapa karakteristik tentang perilaku spasial mereka, tetapi beberapa orang yang serupa atau sejenis berkelompok di dalam naungan “teritorialitas”. Jadi, dengan demikian ruang terbentuk oleh hal-hal berikut ini:
      Batasan fisik yang menghalangi gerakan maupun penerimaan stimuli visual dan pendengaran.
      Perilaku spasial dari organisme yang berada di dalamnya.
      Persepsi terhadap stimuli.
      Ketika kita menjelaskan tentang organisme yang tingkatannya lebih rendah daripada manusia, yang kita bicarakan adalah ukuran ruang tertentu yang berfungsi sebagai daerah pribadi dan kolektif, dan secara lebih jauh digambarkan dalam terminologi tentang kecenderungan binatang untuk mempertahankan diri dari musuhnya dan untuk membalas pengganggunya pada waktu pengganggu tersebut merusak batasan teritorinya.
      Agresi benar-benar disosialisasikan bagi manusia yang memiliki peradaban, sehingga kita tidak dapat menggunakan bentuk ekspresi perilaku yang tampak atau perilaku overt sebagai petunjuk. Meskipun seperti itu, kita punya alasan tersendiri untuk percaya bahwa “perilaku teritorial” adalah keinginan untuk mempunyai dan menempati bagian-bagian ruang yang tersebar. Dalam konteks kita sebagai makhluk yang berbudaya, hal ini dipahami sebagai alasan dalam upaya untuk menguasai dan menempati bagian tertentu pada suatu ruang.
      Dalam ruang bersama, perilaku manusia akan tampak seperti perilaku binatang ketika mempertahankan teritorinya masing-masing, dengan adanya perselisihan antara individu, individu dengan kelompok, juga antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Disini perselisihan akan terlihat dari pola individual yang tersosialisasi dari serangan manusia yang terlepaskan secara kolektif. Pada saat kelompok kita sendiri terlibat di dalam perilaku ini, dapat disebut dengan sikap patriotisme. Dan bila kelompok lainnya yang melakukan hal tersebut, maka kita sebut dengan agresi.

      Hapus
    2. PART 2
      Perwujudan tentang adanya suatu teritori berada dalam tingkatan yang lebih rendah. Teritori dibentuk dan dipengaruhi oleh rancangan lingkungan dengan beberapa cara: bila desain berubah, maka teritori juga berubah. Contoh mengenai teritorialitas disini akan dijelaskan dengan menggunakan penggambara sebuah perusahaan besar yang berada di kota besar, berada di ruang yang berdekatan dengan bangunan tinggi, terdiri dari banyak perkantoran, mempekerjakan karyawan dengan tingkatan jabatan yang berbeda. Perusahaan ini telah memiliki sebuah lingkungan binaan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari karyawannya: terdapat perpustakaan, cafe, restoran, snack bar, dan area untuk berelaksasi secara aktif dan pasif di dalam bangunan tersebut.
      Di dalam lingkungan binaan, terjadi interaksi-interaksi sosial dan aksi-aksi perilaku yang menempatkan adanya kecenderungan tentang teritorialitas. Diantara staf yang bekerja, selalu terjadi adanya perubahan desain yang menyesuaikan dengan diri mereka masing-masing. Ketika menempati sebagian dari ruang yang diberikan, mereka butuh untuk mengidentifikasi tanpa melihat siapa, dalam sentuhan nyata, sehingga orang-orang datang untuk menghargai bagian ruang tersebut di sekitar mejanya dan ruang kerja disini menjadi cara konseptualisasinya.

      2. RUANG PERSONAL DAN RUANG TERITORIAL
      Elemen ruang yang telah dijelaskan di atas, kita sebut dengan unit teritorial. Sedangkan individu yang menempatinya adalah penghuni. Penghuni dari unit tersebut harus berbeda dengan pengguna yang tidak menguasai teritori orang lain tetapi berada di dalamnya, juga berbeda dengan orang yang berkunjung sewaktu-waktu. Pada saat orang meninggalkan wilayahnya, akan ada kebiasaan untuk membuat dua karakteristik perilaku lainnya sebagai kejelasan akan ruang.
      Personal Space
      Digambarkan sebagai sebuah lingkaran kecil dalam ruang fisik, dengan seseorang berada di tengahnya sesuai dengan radius yang telah ditentukan secara kultural.
      Teritorial Cluster
      Memasukkan orang-orang ataupun unit wilayah lainnya yang sering dikunjungi dan alur yang digunakan untuk mencapainya. Setiap orang dalam cluster ini mempunyai clusternya masing-masing, juga kesatuan yang terdiri dari cluster asli dan cluster lain yang secara bebas dimasukkan dalam teritorial complex.
      Gambar dibawah ini adalah tingkatan teritorial yang dikemukakan oleh Stea, yang terdiri dari teritorial unit, teritorial cluster, dan juga teritorial complex:

      Gambar 1. Tingkatan teritorial yang dikemukakan oleh Stea.

      Hapus
    3. PART 3
      3. PERUBAHAN TERITORI DAN DAMPAKNYA
      Yang menjadi perhatian utama kita adalah perubahan teritorial dan dampaknya, tetapi perubahan tidak dapat dinyatakan tanpa menjelaskan situasi yang eksis sebelum adanya perubahan. Seseorang dapat diasumsikan juga memiliki sebuah peta mental atau gambaran lingkungan dari ruang yang direpresentasikan oleh cluster; dengan menggunakan teknik seperti yang digunakan oleh Kevin Lynch (1960) dalam penelitiannya tentang bentuk konseptual dari kota-kota, kita dapat menentukan alam yang dipersepsi oleh unit-unit, cluster-cluster, dan kompleks-kompleks, dan dari jalur yang menghubungkan mereka. Perubahan mengambil dua bentuk: perubahan perilaku dan perubahan desain. Dugaan kami, dalam hal yang paling umum, adalah bahwa mengubah karakteristik teritori yang didefinisikan, akan mengubah perilaku yang terjadi di dalamnya, dan perubahan perilaku yang menyebabkan perubahan teritori. Kami kurang tertarik tentang aspek sebab-akibat dari hal tersebut, daripada yang terjadi secara sederhana dalam suatu hubungan; kami bahkan bisa bertanya: “Perubahan apa yang terjadi dalam perilaku, dengan aspek-aspek fisik dari desain yang konstan atau tetap, setara dengan perubahan yang diberikan dalam desain?”
      Terdapat bermacam-macam ruang dalam suatu kantor yang dihuni oleh tiap-tiap staf dalam contoh yang telah kita bahas sebelumnya. Jika terdapat pengaturan-pengaturan dan perubahan tertentu dalam ruang kantor, hal itu dapat menyebabkan karyawan di dalamya (yang menghuni) kehilangan otonomi, mengalami penurunan moral dan efisiensi kerja, bahkan juga mengalami tekanan secara psikologis.
      Situasi sering menjadi lebih kompleks. Beberapa tahun lalu, arsitek Jerman telah mengembangkan suatu pendekatan secara radikal terhadap ruang kantor, yang dalam terminologi mereka disebut dengan burolandschaft (lansekap kantor). Sistem ini diterapkan terhadap perencanaan kantor dibedakan dengan ketiadaan sub-space yang digambarkan dengan dinding dan pembatas dan sebuah pengaturan perabot yang sengaja diatur (tepatnya ditentukan oleh alur kerja dan komunikasi yang diinginkan dan pola sirkulasi).
      Desainer dari burolandschaft terlihat mampu untuk mengenali bahwa terdapat ketidaknyamanan yang dihubungkan dengan pembagian ruang yang besar dengan banyak orang untuk bagian yang luas tiap harinya, yaitu dengan mengarahkan meja pada arah yang berbeda untuk menambah privasi, serta penataan ruang yang lebih mengutamakan pembatas terhadap rangsang audio, yaitu dengan menggunakan sekat yang sangat baik untuk mengurangi tingkat kebisingan dalam kantor. Hal ini sangat berbeda dengan pola penataan perancangan ruang kantor di Amerika. Dimana sudah dipahami pola pembentukan ruang dan pola pergerakan lebih pada rangsangan visual dari pada rangsangan audio dengan penggunaan pembatas yang kurang baik terhadap reduksi suara. B├╝rolandschaft-nya Jerman berasumsi, bahwa dalam lingkungan visual yang beraneka ragam, beberapa orang akan lebih sedikit terganggu dari pada terhadap gangguan suara. Hal tersebut terjadi karena pada masa itu, Jerman kurang menjaga ketat waktu istirahat pada para pekerjanya, sehingga bisa dilakukan kapan saja. Hal ini berbeda dengan fenomena yang terjadi dalam pola perkantoran di Amerika, dimana waktu istirahat merupakan suatu hal yang sangat diatur dengan ketat. Dengan demikian, kekacuan visual merupakan salah satu yang kurang penting yang dalam menimbulkan potensi kurang baik dari kantor terbuka di Amerika. Amerika beranggapan, jika sebuah sistem diberlakukan dengan penjagaan dan pengawasan yang ketat, serta pemantauan setiap saat, bukanlah kesesuaian yang didapat, tetapi ketidakdisiplinan pekerja akan lebih sering terjadi di dalamnya.

      Hapus
  18. PART 4
    Dengan kata lain, dengan perubahan bentuk, ukuran dan tatanan dari ruang yang merupakan teritorial dari individu-individu, akan menyebabkan perubahan perilaku dari unit-unit teritorial tersebut. Atau, desain dari suatu ruang dapat mempengaruhi perilaku individu yang berada di dalamnya. Artikel Richards and Dobyns dalam Human Organization (1957) menggambarkan sebuah teritorialcluster hampir sangat bergantung keberadaannya terhadap aspek desain.

    4. PERGERAKAN ANTARA INDIVIDU DALAM TERITORIALITAS
    A.E. Parr (1964-65) menekankan pentingnya keberagaman dalam lingkungan, keinginantentang perubahan, untuk variasi yang mungkin dimasukkan dalam stimulus. Manusia selalu berusaha secara aktif untuk mencari variasi yang tidak ditemukan dalamlingkungan sekitarnya.Pekerjaan seseorang, jika bervariasi dan menarik, akan jauh lebih dari cukup untuk menggantikan ruang kerja yang monoton dan membosankan.
    Cluster teritorial dalam sebuah kantor, seperti yang telah digambarkan, terlihat seperti sebuah benda yang statis (tetap). Akan tetapi,cluster tidak dapat ada tanpa adanya pergerakan yang terjadi di dalamnya, demikian juga dengan sebuah kompleks tanpa pergerakan di antara cluster. Pergerakan manusia di dalam cluster, kompleks, bangunan dan kota memiliki hubungan yang sangat erat dengan permasalahan umum dari orientasi topografi (lokasi, navigasi, pencarian jejak, dan lain-lain). Ketika kita bertanya apakah seseorang telah terorientasi dengan baik, dalam kenyataannya, kita menanyakan apakah ia benar-benar terorientasi, berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk terorientasi, proses yang menjadikan ia terorientasi dan teknik yang digunakannya untuk menentukan orientasi ini.
    Sedangkan John Barlow (1964) mengusulkan bahwa petunjuk mengenai ruang ada dua, yaitu: sense of direction dan sense of distance. Bahwa tidak ada dua individu yang memahami hal pada jalur yang sama, bahwa meskipun bahwa secara objektif mirip, familiar path secara subjektif berbeda. Hal tersebut dapat digambarkan pada pengalaman seorang dalam kesulitan mencari jalan dalam suatu kota dengan arah yang telah diberikan seorang teman membentuk kebingungan paralel yang disebabkan oleh hubungan pertama dengan lingkungan yang baru. Arsitek pada dasarnya kurang sesuai dengan penggunaan tanda dalam suatu desain lingkungan. Namun, dengan banyaknya orang yang selalu berusaha mencari kemudahan dan kesenangan dalam pemanfaatannya, maka penggunaan tanda menjadi hal yang sulit untuk dihindari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. PART 5
      5. PERBEDAAN KANTOR DAN MUSEUM BERDASARKAN FUNGSINYA
      Keduanya, keunikan lingkungan kantor dan komunalitasnya dengan ruang lain mungkin menjadi jelas dengan membandingkannya dengan sebuah lingkungan yang fungsinya cukup berbeda: yaitu museum. Kantor desain utamanya adalah untuk pekerja, bukan untuk pengunjung, dan bagi pekerja, baik teritori dan orientasi adalah penting. Museum didesain untuk pengunjung, bukan untuk pekerja, dan sebagai pengunjung yang jarang masuk ke ruangan museum, teritori tidak penting dan juga orientasi, terkecuali dia sedang terburu-buru. Pada kantor, jalur dan tujuan biasanya cukup berbeda; koridor hanya digunakan untuk komunikasi singkat antara reuang kerja untuk manusia dan barang (material).
      Keinginan desainer untuk menyediakan “pengalaman yang menarik” sering diwujudkan dalam museum dan sering gagal dalam kantor. Hal ini mengulangi pernyataan bahwa intuisi desainer seringkali tidak cukup untuk mengatasi dua hal yang sulit dipisahkan dalam desain lingkungan dan perilaku.

      Hapus
    2. PART 6
      TEORI-TEORI YANG BERKAITAN DENGAN TEORI-TEORI ARSITEKTUR DAN PERILAKU MANUSIA
      Dalam bab ini akan dijelaskan tentang beberapa teori dalam Arsitektur dan Perilaku yang akan dibandingkan dengan teori yang sudah dibahas pada uraian sebelumnya (bab 1). Teori-teori yang akan dibandingan diantaranya adalah teori mengenai teritorialitas (territoriality),ruang personal, dan perilaku ruang personal (microspace behavior).
      1. TERITORIALITAS
      Porteous (1977) dalam Amiranti (2012) mendefinisikan teritorialitas sebagai sesuatu perilaku spasial yang melibatkan kontrol khusus terhadap ruang oleh individu atau kelompok manusia, yang bersifat intraspesifik, melibatkan agresi dan memberikan hak-hak kepada individu atau kelompok tersebut terhadap ruang yang bersangkutan.
      Apabila ruang personal merupakan gelembung maya yang portabel, berpindah-pindah mengikuti individu yang bersangkutan, teritorialitas merupakan suatu tempat yang nyata, yang relatif tetap dan tidak berpindah mengikuti gerakan indovidu yang bersangkutan. Teritori berarti wilayah atau daerah, sedangkan teritorialitas adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang.
      FUNGSI TERITORIALITAS
      Fungsi dari teritorialitas itu sendiri dapat berupa:
      Mekanisme bagi keselamatan kelompok, berupa:
      o Kontrol terhadap ruang hidup sebagai jaminan ketersediaan makanan.
      o Kontrol terhadap ruang hidup sebagai tempat melahirkan (bereproduksi).
      Menyediakan keamanan, stimulasi dan identitas yang berguna dasar pengenalan pribadi, integritas personal dan keselamatan jiwa.
      Menyediakan kerangka landasan untuk berhubungan dengan lingkungan.
      MEKANISME KONTROL TERITORIAL
      Mekanisme kontrol teritorial dapat tercipta melalui:
      Mekanisme pertahanan, yang menunjukkan integritas teritorial.
      Mekanisme personal, yang menunjukkan identitas pribadi dan penandaan tempat.
      Masih menurut Porteous (1977) dalam Amiranti (2012), teritori merupakan perilaku spasial yang melibatkan kontrol khusus terhadap ruang oleh individu atau kelompok manusia, yang bersifat intraspesifik, melibatkan agresi dan memberikan hak-hak kepada individu atau kelompok tersebut terhadap ruang yang bersangkutan.
      ORGANISASI TERITORI
      Organisasi teritori terbagi menjadi:
      Micro Space (ruang mikro)
      o merupakan ruang pribadi (personal space).
      o ruang minimun yang diperlukan organisme/manusia untuk hadir dan bebas dari penderitaan psikis dan fisik.
      o secara aktif dipertahankan terhadap intrusi dari luar.
      o dapat diperluas melingkup unit teritori yang lebih besar di sekeliling tubuh.
      o bersifat mobile.
      Meso Space(ruang meso)
      o merupakan Home base.
      o ruang di luar ruang mikro.
      o lebih luas dan bersifat semi permanen dan statis.
      o dipertahankan secara aktif.
      o dapat bersifat individual atau berhubungan dengan kelompok primer kecil (rumah atau halaman) atau bersifat kolektif berupa Neighborhood.
      Macro Space (ruang makro)
      o merupakan home range.
      o ruang di luar home base.
      o untuk memenuhi dorongan/keinginan individu atau kelompok.
      o tempat individu bergabung dalam kelompok.
      o area umum yang tidak mempunyai ciri-ciri khusus.

      Hapus
    3. PART 7
      2. RUANG PERSONAL
      Robert Sommer (1969) dalam Amiranti (2012) mendefinisikan ruang personal sebagai suatu area dengan batas maya yang mengelilingi diri seseorang dan tidak mengijinkan orang lain untuk masuk di dalamnya. Jadi ruang personal itu seolah-olah merupakan sebuah tabung yang menyelubungi kita, membatasi jarak antara kita dengan orang lain, dan tabung tersebut dapat membesar atau mengecil tergantung dengan siapa kita sedang berhadapan.Ruang personal juga dapat dikatakan sebagai suatu komponen jarak dalam relasi interpersonal. Ia menjadi indikator, sekaligus menjadi bagian integral dari hubungan inetrpersonal. Apakah hubungan itu berkembang menuju keakraban atau sebaliknya.
      Edward T. Hall (1966) dalam Amiranti (2012) juga berpendapat bahwa ruang personal adalah jarak dalam berkomunikasi, dimana jarak antar individu ini adalah juga jarak berkomunikasi yang terbagi dalam empat jenis, yaitu:
      Jarak intim (fase dekat < 0,15 m, fase jauh 0,15-0,5 m).
      Jarak personal (fase dekat 0,5-0,75 m; fase jauh 0,75-1,2 m).
      Jarak sosial (fase dekat 1,2-2,1 m; fase jauh 2,1-3,6 m ).
      Jarak publik (fase dekat 3,6-7,5 m; fase jauh > 7,5 m).
      Jarak ini merujuk pada jarak obyektif. Para peneliti, mengamati jarak ini sebagai orang ketiga atau sebagai pengamat. Akan tetapi, jika diaplikasikan di lapangan, manusia melakukannya dengan dasar jarak yang diterimanya (perceived distance), bukan jarak obyektif melainkan jarak interpersonal. Artinya, ruang personal merupakan suatu pengalaman fenomenologikal.
      FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BESARNYA RUANG PERSONAL
      Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya ruang personal, antara lain sebagai berikut:
      Faktor Personal, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
      a. Jenis Kelamin
      Pada umumnya (Giford, 1982), hubungan pria dengan pria mempunyai jarak ruang personal yang besar, kemudian diikuti oleh hubungan antara wanita dengan wanita, dan ruang personel terbesar adalah hubungan antar lawan jenis.
      b. Umur
      Pada umumnya, semakin bertambah usia seseorang, maka akan semakin besar pula jarak ruang personel yang akan dikenakannya pada orang-orang tertentu (Hayduk, 1983). Pada saat remaja, ruang personel yang terbentuk antar lawan jenis akan semakin besar dibandingkan pada saat masih kanak-kanak.
      c. Tipe Kepribadian
      Orang dengan tipe kepribadian introver (tidak mudah berteman, pemalu) memerlukan ruang personel yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang ekstrover (orang yang mudah bergaul, banyak teman) (Cook, 1970).
      d. Latar Belakang Budaya.
      Holahan (1982) dalam Amiranti (2012) mengatakan bahwa latar belakang bangsa dan kebudayaan seseorang akan mempengaruhi besarnya ruang personel seseorang.
      Faktor Situasi Lingkungan,yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
      a. Daya tarik dan persahabatan, membuat orang secara fisik lebih berdekatan, tidak ada rasa takut atau terganggu oleh kehadirannya.
      b. Tatanan fisik, bersifat seperti penyekat ruangan, bisa mengurangi perasaan invasi terhadap ruang personal.
      c. Situasi kooperatif – kompetitif, dalam situasi kompetitif, orang akan cenderung duduk berhadapan, sedangkan dalam situasi kooperatif, orang akan cenderung duduk berdampingan.
      d. Perbedaan status, semakin besar perbedaan status, maka akan semakin besar pula ruang personal yang dibentuknya.
      Faktor Budaya dan variasi Etnis
      Budaya merupakan modifier utama dalam penentuan jarak interpersonal. Penggunaan bahasa dalam berinteraksi akan mempengaruhi besarnya ruang personal. Dengan demikian, besarnya ruang personel sangat ditentukan oleh budaya yang dimiliki setiap orang.
      Kesimpulannya, keduanya yaitu ruang personal dan teriorialitas memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi protektif dan fungsi komunikasi. Fungsi protektif menekankan pada fungsi ruang personal dan teritorialitas sebagai penahan terhadap ancaman emosi fisik dan fisik yang potensial. Sementara itu, fungsi kedua menekankan bahwa jarak yang kita pertahankan menentukan saluran komunikasi yang paling sesuai dalam interaksi kita dengan orang lain (Hall dalam Halim, 2005:217).

      Hapus
    4. PART 8
      3. PERILAKU RUANG PERSONAL
      Menurut Porteous (1977) dalam Amiranti (2012), perilaku ruang personal merupakan perilaku yang mengarah kepada mempertahankan privasi pada teritori di sekitar (tubuh) individu sehingga menciptakan jarak individu(individual distance). Perilaku ini memiliki fungsi, antara lain sebagai berikut:
      Menjamin adanya jarak yang cukup bagi individu dalam suatu kelompok, mengurangi stress, meningkatkan integrasi pribadi, privasi, komunikasi antar pribadi dan kohesi kelompok.
      Sebagai mekanisme kontrol teritorial paling kuat dan mekanisme untuk mempertahankan interaksi antar individu yang optimal.
      Interaksi interpersonal dalam personal space behavior ditentukan oleh jarak interpersonal dan kontak mata, misalnya perhatian akan maksimum pada jarak yang minimum. Ruang personal (personal space) dapat diukur dan diklasifikasikan menggunakan hal-hal berikut:
      Bentuk ruang personal (personal space).
      Proxemics (Hall, 1966), yakni studi mengenai hubungan interpersonal melalui; jarak spasial, kontak mata, efek pendengaran, penciuman, dsb.
      Penyediaan kebutuhan ruang personal merupakan suatu mekanisme dasar untuk pencapaian privasi. Ruang personal merupakan suatu area dengan batas tak terlihat sekeliling tubuh manusia, dimana pengganggu tidak boleh masuk. Apabila area dalam lingkungan tersebut, baik alami ataupun buatan, telah ditandai sebagai suatu teritori maka area tersebut merupakan ruang yang dipersonalisasi (personalized space). Personalisasi mengarah kepada penandaan suatu tempat atau obyek guna menetapkan klaim atas sesuatu yang sudah ditandai sebagai manifestasi kebutuhan kontrol teritorial dan ekspresi selera estetis serta untuk menyesuaikan dengan pola prilaku. Untuk mempertahankannya, perlu adanya area pertahanan. Defensible space adalah rentang mekanisme perilaku untuk mengontrol lingkungan oleh penghuninya melalui batas-batas nyata atau simbolik sebagai bentuk pengawasan atas teritorinya. Terdapat berbagai situasi dimana pelanggaran terhadap personal space bisa ditoleransi karena terdapat mekanisme perilaku tertentu untuk mempertahankan privasi.

      Hapus
    5. PART 9
      KESIMPULAN KAITAN ISI KAJIAN DENGAN TEORI-TEORI ARSITEKTUR DAN PERILAKU MANUSIA
      Teritorialitas adalah pola tingkah laku yang berhubungan dengan kepemilikan atau hak-hak seseorang atau sekelompok orang atas suatu tempat. Teritorialitas mencakup personalisasi dan pertahanan diri terhadap gangguan yang datang dari luar.
      Organisasi menurut Porteous (1977) terdiri dari micro space, meso space, dan macro space.
      Ruang personal adalah suatu area dengan batasan maya yang mengelilingi diri seseorang dan tidak mengijinkan orang lain untuk masuk ke dalamnya.
      Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya ruang pesonal adalah faktor persona, faktor situasi lingkungan, dan juga faktor budaya.
      Jika dihubungkan dengan komunikasi, Edwarad T. Hall (1963) menyatakan bahwa ruang personal adalah sebagai jarak dalam berkomunikasi.
      Ruang personal dan teriorialitas memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi protektif dan fungsi komunikasi. Fungsi protektif menekankan pada fungsi ruang personal dan teritorialitas sebagai penahan terhadap ancaman emosi fisik dan fisik yang potensial. Sementara itu, fungsi kedua menekankan bahwa jarak yang kita pertahankan menentukan saluran komunikasi yang paling sesuai dalam interaksi kita dengan orang lain.
      Ada pengaruh timbal balik antara perubahan teritori dan perubahan perilaku.
      Ada dua kebutuhan dalam diri manusia, yakni kebutuhan akan adanya privasi dan kebutuhan untuk bersosialisasi.
      Konsep tersebut memiliki kaitan dengan salah satu fungsi utama ruang personal dan teritorialitas, yakni fungsi komunikasi. Dalam fungsi ini, manusia terlihat memiliki keinginan untuk menunjukkan dirinya melalui personalisasi ruang-ruang pribadinya.
      Ada hubungan yang erat antara dua karakteristik perilaku spasial, yakni teritorialitas dan ruang personal. Teritori merupakan sesuatu yang terlihat relatif menetap, berpusat pada tempat dan mengatur orang yang berinteraksi. Ruang personal lebih sulit terlihat, dinamis mengikuti subyeknya, berpusat pada manusia dan mengatur jarak antara individu yang berinteraksi.

      Hapus
  19. PART 10
    CONTOH PENERAPAN TERITORI DALAM DESAIN ARSITEKTURAL

    Dalam proses perancangan, khususnya perancangan arsitektur, pemahaman tentang teritori yang berkaitan erat dengan tingkah laku manusia terbukti dapat diterapkan. Penerapan-penerapan dari teori-teori tersebut dapat dilihat dalam contoh-contoh yang akan dijelaskan berikut ini:
    1. SKALA MIKRO
    Contoh teritori dalam skala mikro adalah sebuah rumah (tempat tinggal). Disini rumah berperan sebagai defensible space untuk melindungi penghuninya, dan juga sebagai kontrol pengawasan terhadap invasi maupun agresi yang disebabkan oleh pihak luar maupun kondisi alam. Sedangkan yang menjadi contoh personalized space adalah ruang tidur, karena kita memungkinkan untuk mengatur dan merubahnya sesuai dengan keinginan kita.
    2. SKALA MESO
    Contoh teritori dalam skala meso adalah lingkungan rumah, didalamnya juga terdapat pembagian teritori yang bersifat privat, semi privat, semi publik, dan publik. Untuk mengetahui batasan-batasan tersebut perlu adanya suatu penanda lingkungan yang berguna untuk membatasi suatu area. Hal ini juga merupakan aktualisasi personal dalam menegaskan teritorinya dan sebagai simbol pertahanan. Penanda teritori ini dapat berupa pintu gerbang, patung, vocal point, dan juga kawasan khusus.
    3. SKALA MAKRO
    Contoh dalam skala makro adalah penggunaan vocal point yang dapat menunjukkan identitas suatu area. Hal ini juga merupakan personalization space, selain itu juga dapat memonumentalkan image untuk merepresentasikan sebuah tempat atau daerah tertentu. Semakin kuat vocal point yang digunakan, berarti vocal point tersebut dapat merepresentasikan image wilayah tempatnya berada secara keseluruhan (ketika kita melihat vocal point, maka langsung terpikir nama tempat tersebut).

    Catatan: Untuk gambar-gambar yang melengkapi contoh-contoh dapat dilihat pada makalah Tugas 3.

    BalasHapus
    Balasan
    1. PART 11
      KESIMPULAN
      Penggunaan material memiliki pengaruh yang penting dalam menentukan teritori.
      Ruang-ruang publik dan semi-publik seharusnya dirancang dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat tentang adanya ruang personal dan teritorialitas dalam ruang bersama, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk aktivitas mereka yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa memiliki terhadap ruang-ruang tersebut.
      Pada umumnya, arsitek dan perancang harus memperhatikan kejelasan status teritori yang akan dihasilkan olehnya. Jangan sampai terdapat jenis teritori yang ambigu dalam desainnya, karena hal itu akan menyebabkan kebingungan dan kesalahpahaman dalam penggunaannya. Contohnya, sebuah teritori primer yang dimaksudkan memiliki privasi yang tinggi, namun dirancang dengan desain yang terbuka, akan menyebabkan perasaan tidak nyaman dalam diri penggunanya, karena ketidaksesuaian antara tujuan perancangan dengan persepsi yang timbul terhadapnya.

      Hapus
    2. Referensi:
      Kertas Kerja. Amiranti, Sri. Mata Kuliah Arsitektur Perilaku-RA 092351-2012/2013.
      Hall, Edward T. 1966. A Hidden Dimension. New York: Doubleday.
      Lang, Jon. 1987. Creating Architectural Theory. The Role of the Behavioral Science in Environmental Design. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
      Halim, Deddy Ph.D. 2005. Psikologi Arsitektur. Jakarta: Indonesia.

      Hapus