Estetika dalam Arsitektur Perilaku.
Dalam proses kreatif merancang arsitektur dengan pendekatan perilaku, seorang arsitek seyogyanya mempertimbangkan penggunaan estetika sensori dan estetika simbolik untuk melengkapi penggunaan estetika formalnya. Hal ini terkait dengan kedudukan pengguna karya arsitektur yang bukan saja bertindak sebagai observer dan kontemplator dari estetika arsitektur, tetapi juga berperan sebagai partisipan aktif dari karya arsitektur (Lang, 1987 & Muhamed, diunduh 2011). Dalam hal ini proses mengalami estetika arsitektur (oleh penggunanya) merupakan proses kritis yang patut dikaji oleh para arsitek. Herzberger (1977) menyodorkan studi makna arsitektur bukan hanya sebatas studi terhadap makna presentasional sebagai hasil persepsi ujud ikonik karya arsitektur semata, tetapi juga studi terhadap makna referensial dan makna responsif dari pengguna karya arsitektur. Sehingga hasil kajian pemaknaan arsitektur oleh (calon) pengguna yang diperoleh bukan hanya memori mengenai ujud ikonik arsitektur saja (perceiving and memorizing aesthetics), tetapi juga pengalaman estetika yang memberikan kenyamanan dan kepuasan sosio-kultural-psikologis (experiencing aesthetics).
Bagi mahasiswa S2 dan S3 Arsitektur ITS pengikut MK Arsitektur Perilaku 2 (Bidang Studi Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur) serta pengikut MK Arsitektur Perilaku (Bidang Studi Perancangan Arsitektur) diharap memberikan komentar terkait pernyataan di atas, dalam bentuk kajian teori dan contoh studi kasus. Komentar anda ditunggu sampai dengan tanggal 17 Juni 2011.
Sri Amiranti
Pengampu MK Arsitektur Perilaku 2 dan MK Arsitektur Perilaku
S2 Arsitektur FTSP-ITS
Selasa, 07 Juni 2011
Minggu, 09 Januari 2011
Behavior setting dalam Arsitektur
Menerapkan konsep "territoriality" dalam perancangan interior ruang akan membantu menjadikan ruangan tersebut sebagai sebuah "behavior setting" bagi penggunanya. Bagi mahasiswa peserta kuliah Arsitektur Perilaku 1 di S2 Arsitektur ITS, tolong berikan diskusi yang diperkuat oleh teori dan kasus di lapangan terkait pernyataan tersebut.
Sri Amiranti
Pengampu MK Arsitektur Perilaku 1
S2 Arsitektur ITS
Sri Amiranti
Pengampu MK Arsitektur Perilaku 1
S2 Arsitektur ITS
Minggu, 19 Desember 2010
Territoriality
Menerapkan konsep “territoriality” melalui rancangan mekanisme kontrol teritori dalam perancangan arsitektur perumahan (yang mengakomodasi kebutuhan men-defensi dan mem-personalisasi teritori perumahan), merupakan upaya para arsitek untuk memberikan rasa aman, stimulasi dan identitas bagi penghuni perumahan, sebagai dasar memperoleh identifikasi diri, integritas pribadi dan keberlangsungan psikis mereka (Amiranti, 2010, adaptasi dari Porteous, 1977). Bagi mahsiswa S2 Arsitektur ITS (yang mengikuti kuliah Arsitektur Perilaku 1 semester ganjil 2010 saat ini), diminta untuk memberikan diskusi terhadap pernyataan tersebut, disertai ulasan teori yang mendukung isi diskusi serta contoh kasus di lapangan. Tentu saja komentar dari teman-teman arsitek lain (dan atau teman yang lain) sangat diharapkan untuk menambah “seru” diskusi ini. Terima kasih sebelumnya.
Sri Amiranti
Pengajar S2 Arsitektur ITS
Sri Amiranti
Pengajar S2 Arsitektur ITS
Territoriality
Menerapkan konsep “territoriality” melalui rancangan mekanisme kontrol teritori dalam perancangan arsitektur perumahan (yang mengakomodasi kebutuhan men-defensi dan mem-personalisasi teritori perumahan), merupakan upaya para arsitek untuk memberikan rasa aman, stimulasi dan identitas bagi penghuni perumahan, sebagai dasar memperoleh identifikasi diri, integritas pribadi dan keberlangsungan psikis mereka (Amiranti, 2010, adaptasi dari Porteous, 1977). Bagi mahsiswa S2 Arsitektur ITS (yang mengikuti kuliah Arsitektur Perilaku 1 semester ganjil 2010 saat ini), diminta untuk memberikan diskusi terhadap pernyataan tersebut, disertai ulasan teori yang mendukung isi diskusi serta contoh kasus di lapangan. Tentu saja komentar dari teman-teman arsitek lain (dan atau siapapun) sangat diharapkan untuk menambah “seru” diskusi ini. Terima kasih sebelumnya.
Sri Amiranti
Pengajar S2 Arsitektur ITS
Sri Amiranti
Pengajar S2 Arsitektur ITS
Senin, 24 Mei 2010
Mengalami estetika arsitektur
Sebagai pemanfaat (karya) arsitektur, pengguna bangunan akan mengalami estetika arsitektur. Dengan demikian dia tidak saja bertindak sebagai pengamat (observer) atau sebagai kontemplator semata, tetapi dia juga menjadi partisipan di dalamnya. Untuk itulah arsitek perlu memasukkan estetika sensori dan estetika simbolik dalam rancangannya, mendampingi estetika formalnya. Bagaimanakah pendapat teman-teman mahasiswa Program Pasca Sarjana Arsitektur (baik S2 maupun S3) yang mengikuti kuliah saya di bidang studi Kritik Arsitektur maupun bidang studi Perancangan Arsitektur terhadap pernyataan tersebut. Berilah dasar argumentasi ilmiah dalam menguraikan pendapat anda, dengan mengutip teori-teori terkait. Tentu saja pendekatan perilaku dalam berarsitektur merupakan perhatian utama dalam berargumentasi. Sampaikan pendapat anda dalam bentuk komentar untuk tulisan saya ini, paling lambat tanggal 31 Mei 2010. Saya tunggu. Sri Amiranti.
Kamis, 19 November 2009
Pemanfaatan pendekatan psikologi lingkungan arsitektur
Bisakah pendekatan psikologi lingkungan arsitektur digunakan untuk menjelaskan mengapa suatu bangunan dimanfaatkan tidak sesuai dengan rancangan peruntukannya, atau bangunan yang dimanfaatkan penggunanya setelah dilakukan perubahan tatanan setting fisiknya, atau mengapa mangga dua surabaya kurang ramai dari mangga dua jakarta? Jawabannya : BISA!
Sabtu, 18 April 2009
Pentingnya materi pendekatan perilaku bagi S2 Arsitektur ITS
PENTINGNYA MATERI ARSITEKTUR & PERILAKU BAGI S2 ARSITEKTUR ITS.
1. Kurikulum Berbasis Kasus Nyata yg dicanangkan Jurusan Arsitektur ITS, memerlukan penyempurnaan materi kurikulum dlm kritik dan perancangan arsitektur , berupa substansi dan prosedur positif (dari ilmu-ilmu perilaku bagi studi kasus-kasus nyata) guna mendampingi substansi dan prosedur normatif yg telah ada sebelumnya (lihat skema Lang, 1987, di bawah ini).

2. Environment & Behavior Studies telah dicanangkan sebagai salah satu aspek/ unsur / bagian dari arsitektur oleh Jurusan Arsitektur FTSP-ITS untuk kurikulum 2009-2011. Hal ini sejajar dg tren pendekatan arsitektural berwawasan perilaku yg berkembang saat ini. Terbukti dg diberikannya MK ini di beberapa PT, serta munculnya kelompok2 studi Environment & Behavior yg berkembang pesat di berbagai belahan dunia. (Saya pernah mengikuti salah satu konperensinya di Sidney, Australia). Hal ini sudah didukung oleh Lang (dalam Rhinehart, 2004) yang menyatakan : "Architecture is a fine art, (but) it is also a technology and an applied social/ behavioral science in which architects make statements on the activity patterns, physiological needs and aesthetic preferences of people”
3. Kemampuan Pendekatan Perilaku Untuk me- Rekonstruksi (melalui Kritik, Apresiasi, Membaca Gejala Arsitektur) Eksistensi dan Jati Diri suatu Arsitektur (misal : Arsitektur Nusantara). Hal ini karena pendekatan perilaku sangat mendasarkan dirinya pada human experience, yang menjadi andalan pendekatan fenomenologi (Phenomenological Psychology à empirical phenomenological research) dalam membaca/ menginterpretasi gejala / eksistensi suatu arsitektur (Seamon, 2000). Hal ini sejalan pula dengan pendapat Jorof & Morse, 1984 mengenai lingkup penelitian arsitektur sebagai berikut :
Tabel 2.2. Diciplines Usually Associated with Study of Input and Outcomes of Built Form.
Inputs/ Outcomes Diciplines
Environmental inputs
The natural environment Geography
Cultural forces Anthropology
Economic forces Economics
Political forces Political science
Pattern of social organization Sociology
Construction/ building process Economic, civil engineering
Architectural design Psychology, architecture
Environmental outcomes
Impact upon natural environment Geography, architecture
Cultural impact Anthropology
Economic impact Economic
Political impact Political science
Social impact Sociology
Impact upon users Psychology, architecture
____________________________________________________________________
Sumber : Joroff dan Morse, 1984.
4. Pendekatan Perilaku bisa berafiliasi dengan isme arsitektur mana saja. Hal ini dikarenakan bahwa perilaku bukan hanya yang terlihat nyata (overt = yg terkait dg cara beraktivitas/ spatial behavior dan perlakuan terhadap ruang dan bentuk arsitektur), tetapi juga mencakup perilaku yg tidak terlihat (covert = yg terkait dg ”schemata”, yg menyimpan sikap, pilihan, persepsi dan pemaknaan, cara memandang, filosofi sesorang dlm menyikapi ruang dan bentuk arsitektur, dsb) (Baum, dlm Elyacoubi dan Gibson, dlm Lang, serta kritik Lang tentang Arsitektur Modern). Hershberger sangat menyarankan para arsitek untuk ”belajar” membaca ”schemata” dari calon pengguna bangunannya.
5. Sesuai panduan dari IAI Pusat, materi pendekatan psikologis dalam perancangan arsitektur (yang notabene adalah pendekatan perilaku) termasuk materi yang diberikan dalam penataran Strata 3 IAI. Saya sudah 2 tahun berturut- turut diminta memberikan materi ybs, serta berdiskusi dengan peserta penataran. Syukurlah, sambutan cukup menggembirakan, mungkin karena materi sesuai dg tren yg berlaku di lapangan. Hal ini disebabkan karena pendekatan perilaku berpotensi menjelaskan motivasi seseorang untuk menerima atau menolak suatu karya arsitektur, melalui kaitannya dg ”behavioral subsystem” manusia (”culture, social role, personality, organismic, environmental experience”) (Parson, dalam Lang), yang mewarnai motivasi dan kebutuhannya dalam berperilaku.
6. MK berbasis perilaku dlm arsitektur (dengan pendekatan ilmu psikologi lingkungan arsitektur) sudah diajarkan di S2 Arsitektur ITS selama 8-10 tahun terakhir, termasuk di Alur Kritik dan Perancangan Arsitektur (diajarkan dlm 3 semester berturut-turut). Syukurlah sambutan mahasiswa sangat positif (terbukti banyaknya tesis yang berbasis pendekatan perilaku ini, karena memang berpotensi menjawab permasalahan penelitian dalam tesis mereka) , sehingga banyak mahasiswa yg menyarankan pemangku MK ini untuk menulis buku terkait materi ybs. Bahkan terdapat mahasiswa S2 Kritik & Perancangan Arsitektur lulusan Psikologi yg sekarang sedang saya bimbing tesisnya (karena masalah dan penyelesaiannya sangatlah ngArsitektur Perilaku sesuai kapasitas saya).
7. Lingkup materi arsitektur dan perilaku sangat menjanjikan untuk dikomunikasikan ke masyarakat ilmiah/ umum, baik untuk pengembangan ilmu arsitektur maupun untuk menjawab permasalahan di lapangan. Dalam 5 tahun terakhir ini saya sudah melakukan 5 (lima) penelitian kompetensi nasional DIKTI, Due-Like dan ITS, 8 (delapan) makalah seminar nasional maupun internasional di ITS & UK Petra Surabaya, UNDIP Semarang, UGM Yogyakarta, UK Trisakti Jakarta, UNPAR Bandung, 4 (empat) artikel Jurnal nasional dan lokal, yang menyuarakan materi arsitektur dan perilaku ini, serta memperoleh sambutan yang positif.
8.1. Terakhir, saya kutipkan sekelumit tulisan Thomas Fisher di Harvard Design Magazine, yg berjudul Rising Ambition, Expanding Terrain (On Practice, Architect Behave Badly, Ignoring Environmental Behavior Research?), sebagai berikut :
“Since architecture centrally involves constructing environments for people, why has the architectural community largely ignored environmental psychology, the field that analyses how well we do in meeting people’s needs? Is it that we don’t want to know or, even more troubling, that we don’t care how we’re doing? Or have our various modern and postmodern ideologies gotten in the way, allowing us to convince ourselves that the enormous literature in environmental behavior has little relevance to either the discipline or practice of architecture? And is it time, as architecture has become much less ideological and much more tolerant of difference, to look again at what environmental psychology has to offer us?
“Since architecture centrally involves constructing environments for people, why has the architectural community largely ignored environmental psychology, the field that analyses how well we do in meeting people’s needs? Is it that we don’t want to know or, even more troubling, that we don’t care how we’re doing? Or have our various modern and postmodern ideologies gotten in the way, allowing us to convince ourselves that the enormous literature in environmental behavior has little relevance to either the discipline or practice of architecture? And is it time, as architecture has become much less ideological and much more tolerant of difference, to look again at what environmental psychology has to offer us?
Bagi teman-teman mahasiswa S2 Arsitektur ITS yg sedang mengikuti MK Perancangan Arsitektur & Perilaku, diharap memberikan komentarnya terhadap tulisan saya ini (yg sekaligus berfungsi sebagai kuliah/ diskusi kita untuk jadwal kuliah Rabu 22-4-2009) langsung di sini.
Langganan:
Postingan (Atom)