Minggu, 09 Juni 2013

DISKUSI MATERI KONTRIBUSI “POSITIVE THEORY” DALAM ARSITEKTUR PERILAKU



DISKUSI MATERI  KONTRIBUSI “POSITIVE THEORY” DALAM ARSITEKTUR PERILAKU
Skema Lang (1987) di atas menguraikan dengan jelas peran ilmu-ilmu perilaku dalam menngisi masukan “positive theory” pada proses perancangan arsitektur maupun evaluasi karya arsitektur. Bagi mahasiswa S2 maupun S3 Pasca Sarjana Arsitektur ITS yang mengikuti perkuliahan Arsitektur Perilaku,  diminta memberikan komen dalam blog ini yang menguraikan  kontribusi  positive theory” untuk menjelaskan dan mempertajam telaah / kajian substansi dan prosedur yang anda kupas dalam tesis/ desertasi anda.
Penekanan telaah/ kajian bagi tiap bidang studi adalah sbb :
·         S2 Teori, Sejarah dan Kritik Arsitektur bertumpu pada pendekatan kajian evaluatif/ kritis dari obyek/ subyek garapan dalam tesis
·         S2 Perancangan Arsitektur bertumpu pada pendekatan perancangan arsitektur dari obyek rancangan dalam tesis
·         S3 Pemukiman bertumpu pada pendekatan kajian evaluatif/ kritis dari obyek/ subyek garapan dalam desertasi atau pada pendekatan perancangan arsitektur dari obyek rancangan dalam desertasi.

Komen di blog serta keseluruhan materi tugas ini yang disajikan lengkap (dengan gambar/grafis/skema yang mendukung) dalam bentuk soft copy (yang bisa dikompilasi dalam sebuah CD untuk masing-masing bidang studi), diunggah/ dikumpulkan paling lambat hari Selasa, tggl 18 Juni 2013.
Selamat bekerja!

Wass,
Dosen MK Arsitektur Perilaku 2 dan MK Arsitektur Perilaku
Sri Amiranti

Rabu, 26 Desember 2012

Evaluasi Penerapan Fungsi Territoriality di dalam Karya Rancangan Arsitektur.


Untuk teman-teman mahasiswa Pasca Sarjana Arsitektur ITS peserta MK Arsitektur Perilaku 1, semester 1, Bidang Studi Teori, Sejarah & Kritik Arsitektur,  tahun 2012/2013,

Anda semua diharuskan membuat tulisan berupa bahasan teori yang terkait konsep Konsep Territoriality dalam Arsitektur Perilaku, beserta evaluasi penerapannya dalam kasus karya rancangan Arsitektur/ Perancangan Kota/ Interior, khusus terkait dengan  fungsi fisik-fisiologis, psikologis dan sosial dari konsepTerritoriality tersebut. Tulisan mengenai teorinya bisa di-posting dalam blog saya ini, sedangkan keseluruhan makalah berikut gambar-gambar studi kasusnya dikumpulkan dalam format soft-copy (dalam CD) dikumpulkan pada tanggal 11 Januari 2012 ke TU S2 Arsitektur ITS.

Saya tunggu posting anda.

Sri Amiranti,
Dosen MK Arsitektur Perilaku 1
Bidang Studi Teori, Sejarah & Kritik Arsitektur
S2 Arsitektur ITS

Kamis, 24 Mei 2012

Untuk para mahasiswa S2 Perancangan Arsitektur ITS peserta MK Arsitektur Perilaku tahun ajaran 2012,
Anda semua secara perorangan diharapkan memberikan komentar dalam bentuk tulisan (disertai gambar-gambar pendukung) mengenai  isue-isue/ tema/ teori dalam arsitektur perilaku yang ada dalam daftar di bawah ini, dilengkapi dengan kasus-kasus lapangan/ pustaka (dengan gambarnya) yang bisa menunjang dan mempertajam pemahaman teoritis dari  isue-isue/tema/teori yang sudah anda pilih sendiri.
Anda dapat memilih salah satu dari daftar di bawah ini :

  1. behavior setting
  2. territoriality
  3. place attachment
  4. behavioral data collecting methods
  5. post occupancy evaluation

Saya tunggu komentar/tulisan anda sampai dengan hari Senin, tanggal 4 Juni 2012, sebagai partispasi anda dalam penyelesaian salah satu tugas MK Arsitektur Perilaku.


Sri Amiranti
Pemangku MK Perancangan Arsitektur
Bidang Studi Perancangan Arsitektur
Program S2 Arsitektur - ITS

Selasa, 07 Juni 2011

Estetika dalan Arsitektur Perilaku

Estetika dalam Arsitektur Perilaku.
Dalam proses kreatif merancang arsitektur dengan pendekatan perilaku, seorang arsitek seyogyanya mempertimbangkan penggunaan estetika sensori dan estetika simbolik untuk melengkapi penggunaan estetika formalnya. Hal ini terkait dengan kedudukan pengguna karya arsitektur yang bukan saja bertindak sebagai observer dan kontemplator dari estetika arsitektur, tetapi juga berperan sebagai partisipan aktif dari karya arsitektur (Lang, 1987 & Muhamed, diunduh 2011). Dalam hal ini proses mengalami estetika arsitektur (oleh penggunanya) merupakan proses kritis yang patut dikaji oleh para arsitek. Herzberger (1977) menyodorkan studi makna arsitektur bukan hanya sebatas studi terhadap makna presentasional sebagai hasil persepsi ujud ikonik karya arsitektur semata, tetapi juga studi terhadap makna referensial dan makna responsif dari pengguna karya arsitektur. Sehingga hasil kajian pemaknaan arsitektur oleh (calon) pengguna yang diperoleh bukan hanya memori mengenai ujud ikonik arsitektur saja (perceiving and memorizing aesthetics), tetapi juga pengalaman estetika yang memberikan kenyamanan dan kepuasan sosio-kultural-psikologis (experiencing aesthetics).

Bagi mahasiswa S2 dan S3 Arsitektur ITS pengikut MK Arsitektur Perilaku 2 (Bidang Studi Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur) serta pengikut MK Arsitektur Perilaku (Bidang Studi Perancangan Arsitektur) diharap memberikan komentar terkait pernyataan di atas, dalam bentuk kajian teori dan contoh studi kasus. Komentar anda ditunggu sampai dengan tanggal 17 Juni 2011.

Sri Amiranti
Pengampu MK Arsitektur Perilaku 2 dan MK Arsitektur Perilaku
S2 Arsitektur FTSP-ITS

Minggu, 09 Januari 2011

Behavior setting dalam Arsitektur

Menerapkan konsep "territoriality" dalam perancangan interior ruang akan membantu menjadikan ruangan tersebut sebagai sebuah "behavior setting" bagi penggunanya. Bagi mahasiswa peserta kuliah Arsitektur Perilaku 1 di S2 Arsitektur ITS, tolong berikan diskusi yang diperkuat oleh teori dan kasus di lapangan terkait pernyataan tersebut.

Sri Amiranti
Pengampu MK Arsitektur Perilaku 1
S2 Arsitektur ITS